Kamis, 24 Mei 2012



TUGAS MATA KULIAH
METODE PENELITIAN


PENGARUH PARTISIPASI PENYUSUNAN ANGGARAN DAN
PERAN MANAJERIAL PENGELOLA KEUANGAN DAERAH TERHADAP KINERJA PEMERINTAH DAERAH






DOSEN :
Prof. DR. Ir. EUPHRASIA SUSY SUHENDRA, MS.

NAMA :
ANTON YULIANTO



KELAS 4AP
JURUSAN AKUNTANSI PEMERINTAHAN
PROGRAM PASCA SARJANA
MAGISTER MANAJEMEN
UNIVERSITAS GUNADARMA

PENGARUH PARTISIPASI PENYUSUNAN ANGGARAN DAN
PERAN MANAJERIAL PENGELOLA KEUANGAN DAERAH TERHADAP KINERJA PEMERINTAH DAERAH

Latar Belakang
Good Governance merupakan issue yang paling mengemuka dalam pengelolaan pemerintahan dalam era otonomi. Lahirnya otonomi merupakan perwujudan dari pergeseran sistem pemerintahan, yakni sistem sentralisasi menuju sistem desentralisasi. Otonomi daerah mengandung beberapa misi, yaitu menciptakan efisiensi dan efektifitas pengelolaan sumber daya daerah, meningkatkan kualitas pelayanan umum dan kesejahteraan masyarakat, dan memberdayakan dan menciptakan ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam perubahan sistem pengelolaan keuangan Pemerintah Daerah.
Otonomi daerah menuntut adanya pengelolaan keuangan yang lebih bertanggung jawab (akuntabel) dan transparan dalam setiap kebijakan, tindakan dan kinerja yang dihasilkan.  Dalam proses pengelolaan keuangan pemerintah, anggaran merupakan salah satu unsur penting.  Anggaran merupakan pernyataan mengenai apa yang diharap dan direncanakan dalam periode tertentu dimasa yang akan datang.  Penyusunan anggaran harus dilakukan secara ekonomis, efisien dan efektif (Value for Money) untuk meningkatkan kinerja pemerintah.
Organisasi sektor publik (Pemerintah Daerah) dalam proses penyusunan anggaran menggunakan pendekatan “participative budget” atau disebut juga partisipasi anggaran. Proses penyusunan anggaran dimulai dengan pihak eksekutif yaitu yang terdiri dari beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) menyusun rencana anggaran untuk penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik pada masing-masing unit kerja dimana rencana anggaran tersebut disesuaikan terlebih dahulu dengan visi dan misi organisasi. Rencana anggaran yang telah disusun eksekutif ini kemudian diajukan ke legislatif untuk dibahas lebih lanjut dan disahkan.
Partisipasi anggaran (participative budget) merupakan proses dimana para individu yang kinerjanya dievaluasi dan memperoleh penghargaan berdasarkan pencapaian target anggaran, terlibat dan mempunyai pengaruh dalam penyusunan target anggaran. Partisipasi dalam penyusunan anggaran yang melibatkan setiap lapisan manajemen diyakini mampu meningkatkan baik kinerja individual maupun kinerja organisasi dikarenakan partisipasi anggaran meningkatkan semangat dan tanggung jawab moral seluruh komponen dalam organisasi yang terlibat guna pencapaian tujuan organisasi.
Partisipasi dalam penyusunan anggaran diharapkan juga dapat meningkatkan kinerja manajer yaitu ketika suatu tujuan dirancang secara partisipasi dan disetujui maka anggota organisasi akan menginternalisasikan tujuan yang ditetapkan dan memiliki rasa tanggung jawab pribadi untuk mencapainya karena mereka ikut terlibat dalam penyusunan anggaran.
Proses penyusunan anggaran memerlukan kerjasama para pimpinan Organisasi Perangkat Daerah dalam organisasi pemerintahan. Struktur Organisasi satuan kerja menunjukkan tanggung jawab setiap pelaksana anggaran. Setiap pelaksana bertanggungjawab untuk menyiapkan dan mengelola elemen anggarannya masing-masing. Agar pelaksanaannya berjalan efektif, para pelaksana berpartisipasi untuk merencanakan anggaran, yaitu sejauh mana partisipasi atau peran serta dalam penyusunan anggaran. Partisipasi penyusunan anggaran dinilai dapat meningkatkan kinerja manajerial pimpinan organisasi perangkat daerah yang pada akhirnya meningkatkan kinerja pemerintah secara keseluruhan. Para bawahan yang merasa aspirasinya dihargai dan mempunyai pengaruh pada anggaran yang disusun akan lebih mempunyai tanggung jawab dan konsekuensi moral untuk meningkatkan kinerja sesuai yang ditargetkan dalam anggaran.
            Namun demikian dalam rangka mewujudkan kinerja pemerintahan secara menyeluruh tidak berhenti pada tahap awal penyusunan anggaran, namun dibutuhkan peran manajerial pimpinan daerah khususnya pengelola keuangan yang ada di daerah.  Peran manajerial menurut Mintzberg (1973) terdiri atas peran perseorangan, peran informasi dan peran pengambilan keputusan, sehingga peran manajerial menjadi variabel yang berpengaruh terhadap kinerja Pemerintah Daerah.    

Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini dinyatakan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut :
  1. Apakah partisipasi penyusunan anggaran berpengaruh terhadap kinerja Pemerintah Daerah?
  2. Apakah peran manajerial Pengelola Keuangan Daerah berpengaruh terhadap kinerja Pemerintah Daerah?

Tujuan
            Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menjelaskan; (1) pengaruh partisipasi penyusunan anggaran terhadap kinerja Pemerintah Daerah, dan (2) pengaruh peran manajerial Pengelola Keuangan Daerah terhadap kinerja Pemerintah Daerah.

Sabtu, 14 April 2012

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN (DECISION SUPPORT SYSTEM)


SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN

(DECISION SUPPORT SYSTEM)



Abstract
Sebuah aplikasi berupa Sistem Pendukung Keputusan (Decision Support System) mulai dikembangkan pada tahun 1970. Decision Support Sistem (DSS) dengan didukung oleh sebuah sistem informasi berbasis komputer dapat membantu seseorang dalam meningkatkan kinerjanya dalam pengambilan keputusan. Seorang manajer di suatu perusahaan dapat memecahkan masalah semi struktur, dimana manajer dan komputer harus bekerja sama sebagai tim pemecah masalah dalam memecahkan masalah yang berada di area semi struktur. DSS mendayagunakan resources individu-individu secara intelek dengan kemampuan komputer untuk meningkatkan kualitas keputusan.

Definisi
Decision Support System dapat dikatakan sebagai sistem komputer yang mengolah data menjadi informasi untuk mengambil keputusan dari masalah semi-terstruktur yang spesifik.

Tujuan
Tujuan dari Decision Support System (DSS) antara lain adalah :
·     Membantu manajer membuat keputusan untuk memecahkan masalah semi struktur
·     Mendukung penilaian manajer bukan mencoba menggantikannya
·     Meningkatkan efektifitas pengambilan keputusan seorang manajer dari pada efisiensinya.

Tahap-tahap
Tahap-tahap dalam pengambilan keputusan antara lain adalah :
·         kegiatan intelijen,
·         kegiatan merancang,
·         kegiatan memilih dan menelaah.
Kegiatan intelijen ini merupakan kegiatan mengamati lingkungan untuk mengetahui kondisi-kondisi yang perlu diperbaiki. Kegiatan ini merupakan tahapan dalam perkembangan cara berfikir. Untuk melakukan kegiatan intelijen ini diperlukan sebuah sistem informasi, dimana informasi yang diperlukan ini didapatkan dari kondisi internal maupun eksternal sehingga seorang manajer dapat mengambil sebuah keputusan dengan tepat.
Kegiatan merancang merupakan sebuah kegiatan untuk menemukan, mengembangkan dan menganalisis berbagai alternatif tindakan yang mungkin untuk dilakukan. Tahap perancangan ini meliputi pengembangan dan mengevaluasi serangkaian kegiatan alternatif. Pertimbangan-pertimbangan utama telah diperkenalkan oleh Simon untuk melakukan tahapan ini, apakah situasi keputusan ini terprogram atau tidak. Sedangkan kegiatan memilih dan menelaah ini digunakan untuk memilih satu rangkaian tindakan tertentu dari beberapa yang tersedia dan melakukan penilaian terhadap tindakan yang telah dipilih.

Jenis - Jenis DSS
Jenis-jenis DSS menurut tingkat kerumitan dan tingkat dukungan pemecahan masalahnya adalah sebagai berikut:
·         Mengambil elemen-elemen informasi.
·         Menganalisis seluruh file.
·         Menyiapkan laporan dari berbagai file.
·         Memperkirakan dari akibat keputusan.
·         Mengusulkan keputusan.
·         Membuat keputusan.

Model
Model DSS terdiri dari:
1.     Model matematika.
2.     Database.
3.     Perangkat lunak.

Perangkat lunak DSS sering disebut juga dengan DSS generator. DSS generator ini berisi modul-modul untuk database, model dan dialog manajemen. Modul database ini menyediakan beberapa hal, seperti: creation, interrogation dan maintenance untuk DSS database. DSS database memiliki kemampuan untuk menemukan sistem database yang telah disimpan. Sedangkan modul model digunakan untuk menyajikan kemampuan membuat, menjaga dan memanipulasi ke dalam bentuk model matematika. Model dasar ini menampilkan electronic spreadsheet. Model dialog digunakan untuk menarik perhatian para pengguna untuk berhubungan langsung antara pengguna dengan komputer dalam mencari solusi.

Penerapan DSS Dalam Suatu Instansi
Mengapa DSS digunakan dalam suatu perusahaan?
·         Perusahaan beroperasi pada ekonomi yang tidak stabil.
·         Perusahaan dihadapkan pada kompetisi dalam dan luar negeri yang meningkat.
·         Perusahaan menghadapi peningkatan kesulitan dalam hal melacak jumlah operasi-operasi bisnis.
·   Sistem komputer perusahaan tidak mendukung peningkatan tujuan perusahaan dalam hal efisiensi, profitabilitas dan mencari jalan masuk di pasar yang benar-benar menguntungkan.

Dampak Pemanfaatan DSS
Dampak dari pemanfaatan Decision Support System (DSS) antara lain :
·         Masalah-masalah semi struktur dapat dipecahkan.
·         Problem yang kompleks dapat diselesaikan.
·         Sistem dapat berinteraksi dengan pemakainya.
·        Dibandingkan dengan pengambilan keputusan secara intuisi, pengambilan keputusan dengan DSS dinilai lebih cepat dan hasilnya lebih baik.
·   Menghasilkan acuan data untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh manajer yang kurang berpengalaman.
·         Untuk masalah yang berulang, DSS dapat memberi keputusan yang lebih efektif.
·  Fasilitas untuk mengambil data dapat memberikan kesempatan bagi beberapa manajer untuk berkomunikasi dengan lebih baik.
·         Meningkatkan produktivitas dan kontrol dari manajer. 

Faktor Pendukung DSS
Pengambilan keputusan dipengaruhi oleh :
·         Faktor teknologi
·         Faktor kompleksitas struktural
·         Faktor pasar internasional
·         Faktor stabilitas politik
·         Faktor konsumerisme
·         Faktor intervensi pemerintah
·         Faktor informasi yang berkaitan dengan masalah tersebut,
·         Faktor gaya pengambilan keputusan dan
·         Faktor kemampuan (intelegensi ,persepsi, dan falsafah) serta
·       Pertimbangan pengambil keputusan. Pengambilan keputusan selalu berkaitan dengan ketidakpastian dari hasil keputusan yang diambil. Untuk mengurangi faktor ketidakpastian tersebut, keputusan membutuhkan informasi yang sahih mengenai kondisi yang telah, dan mungkin akan terjadi, kemudian mengolah informasi tersebut menjadi beberapa alternatif pemecahan masalah sebagai bahan pertimbangannya dalam memutuskan langkah yang akan dilaksanakannya, sehingga keputusan yang diambil diharapkan dapat menrberikan keuntungan yang maksimal.
·       Menggunakan aplikasi Computer Base Information System (CBIS) untuk lingkungan kelompok, seperti: Electronic Meeting System (EMS) dan Group Decision Support System (GDSS). Sistem Pendukung Keputusan Kelompok (group decision support system), atau GDSS adalah suatu sistem berbasis komputer yang mendukung kelompok-kelompok orang yang terlibat dalam suatu tugas (tujuan) bersama dan yang menyediakan interface bagi suatu lingkungan yang digunakan bersama.

Contoh Pengaplikasian Sistem Pendukung Keputusan (Decision Support System) dalam membantu proses pengambilan keputusan oleh Pimpinan pada pelayanan perizinan di Kota Depok